Global Sumud Flotilla (GSF): Berakhir dengan Intervensi Militer Israel

Global Sumud Flotilla (GSF): Berakhir dengan Intervensi Militer Israel

Oleh: Nur Faizah

Global Sumud Flotilla (GSF): Berakhir dengan Intervensi Militer Israel

Lp2m.uinssc.ac.id – Dalam sebuah upaya heroik untuk menembus blokade yang telah memenjara hampir dua juta jiwa, terdapat konvoi kapal kemanusiaan terbesar dalam sejarah, Global Sumud Flotilla (GSF), yang berlayar menuju Jalur Gaza. Akan tetapi, misi solidaritas global ini berakhir dengan intervensi militer Israel di perairan internasional, hal ini meninggalkan cerita tentang keteguhan di tengah tekanan dan krisis kemanusiaan yang tak kunjung usai.

Apa Itu Global Sumud Flotilla?

“Sumud” dalam bahasa Arab berarti keteguhan, kesabaran, dan ketabahan. Kata ini menjadi factor kesemangatan yang melandasi gerakan sipil internasional ini. Global Sumud Flotilla bukanlah operasi militer, melainkan sebuah aksi damai yang melibatkan aktivis, relawan, serta selebritas yang terdiri dari lebih 44 negara.

Tujuan mereka yaitu mengakhiri blokade ilegal Israel di Gaza dan menyampaikan bantuan kemanusiaan langsung kepada warga Palestina yang telah bertahun-tahun hidup dalam kepungan.

Konvoi yang terdiri dari puluhan kapal ini berangkat dari berbagai pelabuhan di Mediterania, bersatu di lautan lepas sebelum akhirnya berlayar bersama menuju perairan Gaza, membawa secercah harapan dan simbol solidaritas dunia.

Krisis di Laut Mediterania: Serangan, Penahanan, dan Hilang Kontak

Misi damai ini berubah menjadi krisis internasional ketika armada Israel bergerak untuk mencegat konvoi tersebut. Menurut laporan dari Pusat Komando Sumud Nusantara (SNCC), kapal-kapal GSF diserang dan ditahan oleh angkatan laut Israel di zona yang disebut ‘zona merah’ Laut Mediterania, sekitar 100 mil laut dari pantai Gaza.

Sehingga Insiden ini melibatkan banyak warga sipil yang ikut serta setidaknya terdapat 23 warga Malaysia yang tersebar di beberapa kapal. Hingga berita ini dirangkum, terdapat 12 warga Malaysia dikonfirmasi telah ditahan oleh pihak Israel. Di antara mereka terdapat nama-nama yang dikenal publik, seperti selebritas Heliza Helmi, Farah Lee, dan Zizi Kirana, serta sejumlah aktivis dan relawan lainnya.

Situasi menjadi lebih mencemaskan lagi dikarenakan lima warga Malaysia lainnya yang berada di kapal Estrella dan Mikeno dilaporkan hilang kontak. Status dan keselamatan mereka masih belum diketahui, hal ini menambah kekhawatiran semua pihak. Tiga kapal lain, termasuk Fair Lady dan Free Willy, dikabarkan masih berlayar dan mempertahankan komunikasi.

Taktik Agresif Israel: Dari Pengacau Sinyal hingga Pesan Ancaman

Laporan dari GSF mengungkapkan bahwa tindakan Israel tersebut tidak hanya berupa pencegatatan fisik. Namun, militer Israel diduga menggunakan taktik yang lebih halus namun agresif, seperti:

Baca Juga:  Mengarusutamakan Gender di RPJMD 2025–2029: Dari Wacana ke Aksi

Radar Jammer untuk mengganggu sistem komunikasi kapal untuk memblokir sinyal darurat dan siaran langsung. Semprotan Air Bertekanan Tinggi; alat ini Digunakan untuk menghalau dan mengintimidasi para peserta konvoi. Serta Pesan Provokatif; Melalui radio, peserta konvoi menerima pesan ancaman seperti, “Sampai jumpa di penjara.”

GSF dalam pernyataannya mengecam bahwa tindakan ini sebagai “pelanggaran hukum internasional yang nyata dan tindakan agresi yang disengaja terhadap kapal-kapal kemanusiaan yang tidak bersenjata.”

Respons Malaysia: Perdana Menteri Datuk Seri Anwar Ibrahim

Insiden ini langsung memicu respons keras dari pimpinan tertinggi Malaysia yaitu, Perdana Menteri Datuk Seri Anwar Ibrahim dengan tegas ia mengutuk tindakan militer Israel yang menargetkan kapal bantuan kemanusiaan dan warga sipil yang sama sekali tidak bersenjata.

“Dengan menghalangi misi kemanusiaan ini, Israel tidak hanya menunjukkan sikap yang tidak menghormati hak-hak rakyat Palestina, tetapi juga suara hati dunia,” tegas Anwar.

Ia menekankan bahwa Malaysia akan menggunakan semua saluran hukum sesuai hukum internasional untuk memastikan Israel mampu bertanggung jawab, terutama mengenai keselamatan warga negaranya. Tidak hanya itu, Anwar dan tim juga terus berkomunikasi dengan mitra lainnya termasuk Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio untuk mendesak intervensi segera tanpa adanya penundaan.

Sementara itu, Direktur Jenderal SNCC, Datuk Dr. Sani Araby Abdul Alim, dalam konferensi pers menyatakan bahwa berdasarkan informasi yang telah diterima, semua relawan yang ditahan diduga masih dalam kondisi aman berada di kapal masing-masing, meski dipaksa mengubah rute.

Simbol Keteguhan di Tengah Badai

Global Sumud Flotilla mungkin sekali lagi gagal untuk menembus blokade laut menuju Gaza. Namun, misi ini telah sukses dalam hal lain. Seperti mengingatkan dunia akan penderitaan tak berujung di Gaza dan memperlihatkan wajah sesungguhnya dari blokade yang menindas.

Setiap kapal yang berlayar, setiap relawan yang nekat, adalah bukti nyata bahwa semangat “Sumud” keteguhan rakyat Palestina telah menemukan gaungnya dalam solidaritas global. Kisah mereka bukanlah akhir, melainkan babak baru dalam perlawanan sipil yang damai untuk terjalinnya Hak Asasi Manusia. []

Lihat dokumentasi lengkap kegiatan ini di Instagram LP2M UIN SSC.

Baca artikel menarik lainnya di laman LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon: https://lp2m.uinssc.ac.id/category/berita/

Scroll to Top