Saat Laki-Laki Menjadi Mitra: Strategi Baru Kesetaraan di Sekolah
Oleh: Viqia Sastrawardana

Lp2m.uinssc.ac.id – Di tengah upaya regional Asia Tenggara untuk mendorong kesetaraan gender, anggota parlemen Malaysia, Syerleena Abdul Rashid, menegaskan pentingnya sistem pendidikan yang lebih inklusif.
Menurutnya, sekolah tidak boleh hanya membebankan isu emansipasi kepada perempuan, melainkan juga harus melibatkan siswa laki-laki secara aktif. Dengan begitu, kesetaraan gender dipahami sebagai tanggung jawab bersama, bukan sekadar perjuangan satu pihak.
Dalam sebuah diskusi regional, Syerleena menekankan bahwa pendidikan berbasis gender harus menjadi fondasi perubahan sosial di kawasan yang masih bergulat dengan stereotip tradisional.
“Kurikulum kesetaraan gender seharusnya mencakup hal-hal krusial seperti sistem reproduksi manusia dan pencegahan kekerasan seksual. Murid laki-laki dan perempuan harus mendapatkan pengetahuan yang sama, tanpa merasa malu membicarakannya,” jelasnya.
Pendekatan ini bertujuan membangun pemahaman timbal balik, di mana laki-laki dan perempuan belajar menghargai hak serta tanggung jawab masing-masing. Untuk materi sensitif, Syerleena menyarankan adanya kelas terpisah berdasarkan gender agar diskusi lebih nyaman, sementara topik umum seperti hak asasi manusia bisa digabungkan.
Ia juga menyoroti sikap konservatif yang masih kuat di masyarakat—terutama pandangan bahwa perempuan hanya pantas berada di ranah domestik.
Nada serupa datang dari Hassan Mohtashami, Kepala Perwakilan UNFPA (Dana Populasi PBB) di Indonesia. Ia menyoroti masalah kehamilan remaja dan perkawinan anak sebagai penghalang serius bagi kesetaraan gender.
“Ini harus menjadi prioritas pemerintah Indonesia,” tegasnya.
Menurut Hassan, persoalan ini tidak hanya berdampak pada pendidikan, tapi juga kesehatan perempuan. Karena itu, ia mendorong keterlibatan lintas kementerian—Kesehatan, Keuangan, Pemberdayaan Perempuan dan Anak, hingga Pendidikan—untuk memberikan solusi komprehensif.
Salah satu instrumen penting adalah program Keluarga Berencana (KB). Dengan mengedukasi baik laki-laki maupun perempuan tentang perencanaan keluarga, program ini diyakini mampu memperkuat keseimbangan hak dan tanggung jawab dalam rumah tangga.
Lebih jauh, pendekatan ini tidak hanya sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), tetapi juga memperkaya identitas budaya kawasan. Jika laki-laki benar-benar dilibatkan sebagai mitra aktif, Asia Tenggara bukan hanya mampu memulihkan diri dari berbagai krisis, tetapi juga berpeluang menjadi teladan global.
Karena pada akhirnya, emansipasi perempuan bukanlah beban, melainkan kemenangan kolektif—untuk menciptakan generasi tanpa dibatasi oleh sekat-sekat gender. []
Lihat dokumentasi lengkap kegiatan ini di Instagram LP2M UIN SSC.
Baca artikel menarik lainnya di laman LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon: https://lp2m.uinssc.ac.id/category/berita/



