Membiasakan Anak Kritis dan Menghargai Perbedaan Sejak Dini

Membiasakan Anak Kritis dan Menghargai Perbedaan Sejak Dini

Oleh: Fitri Leilani Desmonda

Membiasakan Anak Kritis dan Menghargai Perbedaan Sejak Dini

Menghargai Perbedaan Sejak Dini – Di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh media, pola asuh yang adil gender menjadi kebutuhan mendesak bagi orang tua masa kini. Banyak anak sejak kecil terbentuk oleh stereotip yang diwariskan lingkungan, misalnya “anak perempuan harus penurut” atau “anak laki-laki tidak boleh menangis.”

Pola pikir semacam ini seringkali menutup ruang kebebasan anak untuk bertanya, berpendapat, bahkan mengekspresikan perasaan. Padahal, anak-anak yang terbiasa berpikir kritis sejak dini justru akan lebih mampu menilai mana tradisi yang bermanfaat dan mana yang merugikan, terutama dalam hal keadilan gender.

Membiasakan anak untuk kritis dan menghargai perbedaan bukan berarti membentuk anak menjadi pembangkang, melainkan mengarahkan mereka agar mampu berpikir jernih ketika menghadapi situasi tidak adil. Dengan demikian, pola asuh adil gender dapat menjadi fondasi kuat agar anak tumbuh percaya diri, terbuka, dan terbiasa melihat perbedaan sebagai sesuatu yang wajar.

Ruang Bertanya untuk Anak

Salah satu masalah yang paling sering muncul adalah bagaimana anak jarang diberi kesempatan untuk bertanya. Ungkapan seperti “anak baik tidak banyak tanya” masih sering terdengar di rumah maupun sekolah. Akibatnya, anak-anak terbiasa diam meski melihat ketidakadilan. Lebih parah lagi, anak perempuan biasanya lebih dibatasi ruang bicaranya. Mereka dilatih untuk menurut, sementara anak laki-laki didorong untuk lebih berani meskipun dalam konteks yang salah.

Melansir dari Mubadalah.id melalui artikel “Membiasakan Anak Kritis dan Menghargai Perbedaan Sejak Dini” menegaskan pentingnya menyediakan ruang aman bagi anak untuk bertanya tanpa takut disalahkan.

Pertanyaan sederhana seperti “Mengapa aku tidak boleh main bola?” atau “Kenapa boneka hanya untuk perempuan?” seharusnya dijawab dengan dialog terbuka, bukan dimatikan dengan teguran. Jika orang tua mampu menghadapi pertanyaan anak dengan bijak, anak akan tumbuh lebih percaya diri untuk mengkritisi hal-hal yang tidak adil, termasuk stereotip gender yang masih melekat di masyarakat.

Kasus nyata yang marak pada 2025 menunjukkan hal ini. Di salah satu TK di Selangor, Malaysia, orang tua melaporkan bahwa anak laki-lakinya sering dilarang membawa boneka ke sekolah karena dianggap “permainan perempuan.”

Baca Juga:  Pedoman Baru Malaysia Ancam Kerukunan Beragama

SIS Forum menyoroti kasus ini sebagai contoh nyata bagaimana norma sosial mengekang ekspresi anak sejak usia dini. Padahal, menurut para psikolog anak, bermain boneka dapat melatih empati, yang sama-sama penting bagi laki-laki maupun perempuan.

Peran Orang Tua dan Pendidikan Agama

Di sisi lain, pendidikan agama dan moral juga berperan penting dalam menanamkan nilai kritis dan penghargaan terhadap perbedaan. Menurut KUPI Pedia, dalam Islam perbedaan merupakan rahmat, bukan alasan untuk diskriminasi. Anak-anak sejak kecil perlu diajarkan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki potensi dan hak untuk belajar, berpendapat, serta memilih jalan hidup mereka.

Melansir dari mubadalah.id dalam artikel “Tidak Diskriminatif Terhadap Anak Laki-laki dan Perempuan” menekankan bahwa keadilan gender harus diterapkan sejak dini. Anak-anak sebaiknya tidak dibeda-bedakan dalam akses pendidikan, kesempatan bermain, maupun perhatian dari orang tua. Jika anak laki-laki diberi kebebasan memilih hobi olahraga, maka anak perempuan juga seharusnya mendapat dukungan untuk mengejar bidang yang ia sukai apakah itu seni, sains, atau olahraga.

SIS Forum juga mengingatkan bahwa pola asuh yang membungkam pertanyaan anak justru melestarikan ketidakadilan. Ketika suara anak perempuan tidak didengar, maka kelak mereka bisa tumbuh menjadi perempuan dewasa yang sulit bersuara, bahkan ketika menghadapi ketidakadilan dalam rumah tangga atau masyarakat.

Dengan kata lain, mendidik anak untuk kritis dan menghargai perbedaan adalah investasi jangka panjang untuk membangun masyarakat yang lebih adil gender.

Membiasakan anak kritis dan menghargai perbedaan sejak usia dini bukan sekadar metode parenting alternatif, tetapi sebuah keharusan di era modern. Fakta lapangan pada 2025 menunjukkan bahwa stereotip gender masih menghambat kebebasan anak dalam berekspresi. Kasus anak laki-laki yang dilarang membawa boneka ke sekolah hanyalah satu contoh kecil dari betapa kuatnya norma sosial membatasi ruang anak.

Dengan memberikan ruang aman untuk bertanya, menanamkan nilai agama yang rahmah, dan memperlakukan anak laki-laki serta perempuan secara setara, orang tua dapat membantu anak-anak tumbuh sebagai pribadi yang kritis, percaya diri, dan mampu menghargai perbedaan. []

Baca artikel menarik lainnya di laman LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon: https://lp2m.uinssc.ac.id/category/berita/

Scroll to Top