Kemiskinan Haid di Malaysia

Kemiskinan Haid di Malaysia

Oleh: Khofifah Alawiyah

Kemiskinan Haid di Malaysia

Lp2m.uinssc.ac.id -Menstruasi adalah tanda kehidupan. Ia menandai kesehatan reproduksi, sekaligus menjadi bagian alami dari siklus biologis setiap perempuan. Namun, di balik proses alami yang seharusnya dirayakan sebagai simbol kehidupan itu, tersembunyi realitas getir yang masih dihadapi banyak perempuan di Malaysia—yakni kemiskinan haid.

Fenomena ini bukan sekadar ketidaknyamanan, tetapi bentuk nyata dari ketimpangan gender yang terstruktur. Ia mencerminkan bagaimana tubuh perempuan masih belum sepenuhnya dihargai, bahkan dalam hal yang paling dasar: kebersihan dan kesehatan.

Ketika seorang perempuan harus memilih antara membeli pembalut atau makanan, jelas ada sesuatu yang keliru dalam sistem sosial dan ekonomi kita.

SIS Forum Malaysia

Podcast SIS Forum Malaysia berjudul “Kemiskinan Haid di Malaysia: Realiti Wanita B40” membuka tabir gelap tentang persoalan ini. Nur Farahin Abdul Wahid dari NGO Peduli Merah dan Anjar Juliah Abu Bakar dari Athena Holding Sdn. Bhd. memaparkan bahwa kemiskinan haid bukan mitos, tetapi kenyataan yang dihadapi ribuan perempuan Malaysia, terutama dari golongan B40 (40% masyarakat berpendapatan rendah).

Kemiskinan haid tidak sekadar bermakna tidak mampu membeli pembalut. Ia juga mencakup minimnya akses terhadap air bersih, fasilitas sanitasi yang layak, dan tempat pembuangan yang aman.

Dalam banyak kasus, perempuan harus menggunakan kain bekas atau tisu sebagai pengganti pembalut. Akibatnya, mereka menghadapi risiko infeksi dan gangguan kesehatan reproduksi yang serius.

Lebih tragis lagi, kemiskinan haid menimbulkan efek domino. Remaja perempuan kerap bolos sekolah karena malu atau tidak mampu mengelola menstruasi dengan layak.

Wanita dewasa, terutama pekerja B40, terpaksa absen dari pekerjaan, kehilangan pendapatan harian yang penting bagi keluarga. Dalam situasi bencana seperti banjir, persoalan ini kian parah karena akses terhadap produk kebersihan nyaris nihil.

Salah satu kisah yang diungkap Farahin begitu menyayat: Endang, seorang pemain biola muda, berpuasa berhari-hari untuk menunda menstruasi demi menghemat biaya pembalut dan membantu ayahnya yang sakit.

Puasa ekstrem itu justru merusak siklus tubuhnya. Ini bukan hanya kemiskinan material, tetapi juga kemiskinan kebijakan dan empati.

Ketika Hamil Jadi “Solusi” Menstruasi

Salah satu fakta paling mengejutkan adalah pengakuan bahwa di beberapa daerah pedalaman Malaysia, ada perempuan yang memilih hamil untuk “menghindari” haid.

Mereka beranggapan bahwa selama sembilan bulan kehamilan, mereka terbebas dari beban membeli pembalut atau menghadapi stigma menstruasi.

Pilihan ini mencerminkan keputusasaan. Ia bukanlah keputusan bebas, tetapi hasil dari tekanan ekonomi ekstrem dan kurangnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi.

Dalam beberapa kasus, bahkan anak hasil kehamilan itu akhirnya diserahkan setelah lahir karena keterbatasan finansial. Ini bukan sekadar masalah kemiskinan haid, tetapi krisis kemanusiaan yang kompleks—tentang tubuh, pengetahuan, dan sistem yang gagal melindungi perempuan.

Solidaritas

Meski situasi ini suram, ada cahaya dari upaya-upaya akar rumput. Peduli Merah, di bawah kepemimpinan Farahin, berfokus pada edukasi dan penyediaan akses terhadap produk kebersihan haid secara gratis. Gerakan ini menegaskan bahwa menstruasi bukan hal tabu, dan setiap perempuan berhak mengelolanya dengan aman dan bermartabat.

Baca Juga:  Hak Anak di Atas Segalanya: Membaca Ulang Nafkah dalam Islam dan Hukum Malaysia

Sementara itu, Athena Holding, yang dipelopori Anjar Juliah Abu Bakar sejak 2015, menghadirkan inovasi melalui pembalut ramah lingkungan—baik yang dapat dicuci ulang maupun yang biodegradable.

Lebih dari sekadar bisnis, Athena menyalurkan 35% dana operasionalnya untuk mensponsori pembalut bagi pelajar perempuan usia 11–17 tahun di wilayah pedalaman.

Namun, kisah yang Anjar temukan di lapangan sungguh mencengangkan: napi wanita di Malaysia hanya diberi satu pembalut sehari. Banyak di antara mereka terpaksa mencuci ulang pembalut atau menggunakan kapas seadanya. Ini menyoroti betapa sistem sosial masih belum sensitif terhadap kebutuhan biologis dasar perempuan.

Tanggung Jawab Negara

Isu kemiskinan haid tidak akan terselesaikan tanpa pengakuan dan intervensi dari pemerintah. Seperti ditegaskan Farahin dan Anjar, kebijakan publik yang berpihak pada perempuan harus mencakup:

Pertama, pemerintah perlu melakukan penelitian nasional untuk memetakan skala dan dampak kemiskinan haid secara menyeluruh. Data yang akurat akan menjadi dasar penting bagi penyusunan kebijakan yang efektif.

Kedua, perlu disediakan fasilitas sanitasi yang ramah perempuan di sekolah, tempat kerja, serta lembaga pemasyarakatan. Fasilitas ini harus dilengkapi dengan air bersih, tempat sampah yang aman, dan ruang pribadi yang layak.

Ketiga, pemerintah harus menjamin akses gratis atau bersubsidi terhadap produk kebersihan haid, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah.

Keempat, pendidikan kesehatan reproduksi perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah agar remaja perempuan dan laki-laki memahami proses biologis tubuh secara ilmiah dan bebas stigma.

Kelima, pemerintah juga dapat mempertimbangkan cuti haid selama dua hari bagi perempuan yang mengalami gangguan kesehatan serius saat menstruasi, sebagaimana telah diterapkan di beberapa negara termasuk Indonesia.

Oleh sebab itu, masalah ini juga harus dilihat secara lintas kementeriantidak hanya tanggung jawab Kementerian Wanita, tetapi juga Kementerian Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi.

Dengan begitu, perjuangan melawan kemiskinan haid adalah bagian dari perjuangan besar menuju keadilan gender di Malaysia. Tidak ada kesetaraan sejati jika perempuan masih harus memilih antara kebersihan dan kelangsungan hidup.

Sudah waktunya Malaysia melangkah maju, menormalisasi pembicaraan tentang menstruasi, dan menjadikannya bagian dari kebijakan publik yang serius. Sebab, setiap perempuan berhak menjalani siklus biologisnya tanpa rasa malu, tanpa penderitaan, dan tanpa ketidakadilan.

Menstruasi bukan kutukan. Ia adalah tanda kehidupan—dan kehidupan, sebagaimana mestinya, harus dijalani dengan bermartabat. []

Lihat dokumentasi lengkap kegiatan ini di Instagram LP2M UIN SSC.

Baca artikel menarik lainnya di laman LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon: https://lp2m.uinssc.ac.id/category/berita/

Scroll to Top